1. Businnes
2. Still businnes
3. Absolutly businnes
Itu adalah tiga hal yang selalu menjadi prioritas Michelle Joan. A young (because she just 27 years old) carrier woman. Bisnis, klien, kontrak, sukses adalah kata-kata yang selalu ada dalam kamusnya. Guest what?! Joan (dia suka dipanggil begitu) membuat kamusnya sendiri. Dan kesuksesan adalah kata yang paling banyak memiliki arti. Kesuksesan adalah kerja keras, kesuksesan adalah disiplin, kesuksesan adalah kerja sama, kesuksesan adalah kesabaran, kesuksesan adalah bla bla bla, dan masih banyak arti lagi untuk kesuksesan.
So, memang begitulah tipe wanita karir. Sebenarnya dibalik karirnya yang cermelang sebagai pengembang usaha, Joan hanyalah wanita biasa. Seberapapun dingin tangannya dalam bisnis, sama seperti wanita seumurnya dia juga suka ke salon, nonton gossip, punya perasaan bersalah kalau makan terlalu banyak es krim dan punya hobby belanja bersama sahabat setianya Ling-Ling yang juga partnernya dalam bekerja.
Cantik, ramah, mapan dan berusia 27 tahun. Pria mana yang tidak menginginkannya. Hanya saja dengan seabrek kegiatan itu, tentu saja para pria itu harus rela menunggu untuk mendekatinya. Maka dari itu sampai sekarang Joan belum punya pacar dan belum pernah pacaran. Ling-ling saja hampir menyerah membuatnya memiliki pendamping. Hampir semua pria yang Ling Ling kenalkan pada Joan menyerah dengan kesibukkan Joan.
“Gue kan harus profesional Ling Ling, my bussines is my priority, you know that.”ujar Joan membela diri saat Ling Ling menginterogasinya di kantor pagi-pagi begitu Joan tiba di café baru yang akan mereka bangun. Penyebab Ling ling melotot dan mengintrogasinya adalah karena lagi-lagi Joan membatalkan janji dengan Edward,pria yang ingin dijodohkan Ling Ling padanya.
“Sebenarnya dalam hati gue berjanji, bahwa Edward adalah pria terakhir yang gue kenalin ke elu.Tau kenapa?”tanya Ling Ling. Joan menggeleng tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptopnya.
“Karena Edward adalah pria tersabar yang pernah gue kenal.”ujar Ling Ling. Joan tidak bergeming,masih berkutat dengan laptopnya.
“Tapi, elu gak bisa gitu, gimanapun dia udah coba untuk sabar, apa salahnya temui dia sekali lagi, dia itu orang yang baik.”
Joan masih berkutat dengan laptopnya. Ling Ling menghela nafas.
“Elu boleh bangga dengan keprofesionalan lu di bisnis, tapi dalam relationship with a man, you are zero.” ujar Ling Ling sinis. Joan menatap Ling Ling tajam.
“Oke gue salah, tapi seharusnya dia bisa kasih gue kesempatan lagi kan, kalo emang dia sebaik kata elu.”Joan masih berusaha membela diri.
“Oh ya sampai kapan dia harus sabar, kesabaran ada batasnya Joan.”
“Kesabaran tidak pernah berbatas, karena kalo itu berbatas namanya bukan lagi kesabaran.”bantah Joan cepat membuat Ling Ling bungkam. Hening sesaat. Joan tahu bahwa niat Ling Ling baik. Ling Ling memang selalu mengerti, itulah kenapa Joan mau berusaha dekat dengan pria-pria yang dikenalkan Ling Ling. Tapi, selalu gagal karena kesibukkannya.
“Mungkin bukan sekarang, mungkin ini bukan saat yang tepat buat gue dekat dengan cowok. Secara bisnis yang gue rintis lagi seabrek-abreknya.”Joan berusaha membujuk Ling Ling.
“Trus kapan?”akhirnya Ling Ling kembali bicara. Cukup membuat Joan lega.
“Dunno, tapi gue yakin saat itu pasti datang.Dan kalo saatnya datang elu orang pertama yang gue beritahu.”janji Joan. Ling Ling tersenyum melihat sahabatnya. Memang Joan bukan tipe yang bisa dipaksa.
“Ok. Terserah elu, tapi yang perlu elu ingat, bisnis dan cowok itu dua hal yang berbeda. Mungkin elu bisa prediksi bisnis tapi cowok tidak bisa ditebak.”
Sekarang Joan yang tersenyum mendengar Ling Ling berceramah.
“Tapi keduanya punya kesamaan.”bantah Joan.
“Apa?”tanya Ling Ling penasaran
“Sama-sama butuh sentuhan wanita.”jawab Joan kocak sambil mengedip-ngedipkan matanya. Mereka lalu tertawa bersama.
Usai tertawa Ling Ling menyerahkan setumpuk dokumen pada Joan.
“Ada proposal baru yang datang hari ini, dan beberapa kontrak yang perlu elu pelajari, sebagian udah gue review dan gak ada masalah tapi coba elu cek ulang, kali aja gue khilaf.”
Joan memeriksa dokumen-dokumen itu dengan seksama.
“Gimana dengan omset salon yang kita buka 3 bulan lalu?”tanya Joan.
“Semakin bagus dan meningkat, memang belum balik modal tapi target kita kan 6 bulan, dari hasil pantauan gue awal bulan ke lima mungkin sudah balik modal.”jawab Ling Ling tegas. Joan mengangguk-angguk puas.
“Oh ya, bagaimana denga persiapan grand opening bar & café yang untuk minggu depan, udah fix semuanya?”
“Delapan puluh lima persen udah rampung, kemarin EO yang kita sewa udah selesai membagikan undangan dan membereskan sponsor serta pengisi acara, hanya tinggal sentuhan akhir aja.”
“Konsepnya?”
“Investor kita setuju dengan konsepnya, gak ada masalah.”
Joan tersenyum puas mendengar penjelasan sahabatnya.
“Apa yang bisa gue buat tanpa elu Ling Ling?”puji Joan.
“Pasti gak ada” jawab Ling Ling sekenanya. Lalu tersenyum dan keluar dari ruangan Joan dengan berpura-pura angkuh. Joan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Ponsel Joan bernyanyi.
Edward memanggil..
“Halo, Edward? Aku…”
“Tidak usah minta maaf.”potong Edward cepat”Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal.”katanya pelan.
“Selamat tinggal?”ulang Joan.
“Iya, malam ini aku akan terbang ke London, mengurus cabang perusahaan yang di sana, mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat.”suara Edward semakin tidak terdengar. Hening tercipta.
“Oh, selamat jalan.”ujar Joan akhirnya.
“Kita, apa memang tidak mungkin?”tanya Edward tiba-tiba. Joan terdiam.
“Aku hanya butuh kesempatan, mungkin kamu tidak bisa memberinya sekarang, tapi ketika aku kembali, aku harap akan ada banyak kesempatan untukku.”ujarnya lembut. Joan tidak dapat berkata, dalam hatinya diliputi rasa bersalah yang amat besar. Edward jelas-jelas menyukainya dan mengharapkannya. Joan menyadari bahwa dia sudah berlaku keterlaluan pada banyak pria tapi baru kali ini seseorang seperti Edward tidak menyerah mudah.
”Kenapa diam? Apa permintaanku terlalu berlebihan?”suara Edward membuyarkan lamunan Joan.
“Ah, itu…aku…”Joan tergagap.
“It’s ok. Kita lihat saja nanti. Selamat tinggal. Bye.”
Klik. Dan Edward mengakhiri segalanya bahkan sebelum Joan sempat minta maaf.
“Maafkan aku Edward.”gumam Joan, suaranya tercekat. Jika saja dia datang pada hari janjian mereka yang terakhir, mungkin ceritanya akan lain. Semua pria yang mendekati Joan, menyerah pada pembatalan makan malam yang kedua. Tapi Edward, dia tidak pernah marah bahkan Joan yakin bahwa kali ini Edward memberikannya waktu untuk berpikir dan juga mempertimbangkan perlakuan Edward selama ini. Dalam hati Joan berjanji akan memberikan kesempatan pada Edward dan dirinya sendiri.
Joan masih terlelap di tempat tidurnya ketika jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Semalam dia menghadiri gladiresik grand opening café yang pada hari ini tepat jam 9.30 nanti akan di gelar grand openingnya. Tentu saja dia masih lelah karena semalam baru tidur jam 2 pagi. Demi menghadiri grand opening café itu dia harus segera menyiapkan beberapa bahan presentasi sekaligus.
Ponselnya bergetar terus menerus, Joan bergerak sedikit mengambil ponselnya. Tertera nama Ling Ling di sana.
“Halo…”sapa Joan di antara kantuknya.
“Woi!! Putri Tidur!! Cepat bangun, siap-siap!! Ini sudah jam berapa? Sadarlah!!”sembur Ling Ling yang langsung memberi efek nyata. Tanpa ba bi bu Joan bangun dan semakin panik begitu menyadari sekarang sudah pukul berapa. Mandi secepat kilat dan berdandan seadanya dia langsung melarikan mobilnya ke café baru itu.
Satu hal yang tidak dibenarkan adalah mengebut dan melanggar peraturan lalu lintas berapapun terburu-burunya seseorang. Karena selain berbahaya untuk orang lain juga berbahaya untuk diri sendiri. Buktinya Joan yang seharusnya tiba di café sambil memberi kata sambutan, tapi malah berakhir di rumah sakit dengan kaki di gips.
“Hei, gue nyuruh elu segera tiba bukan segera mati, dasar!”omel Ling Ling. Dia sedang menjenguk Joan yang masih terbaring lemah. Joan berusaha duduk, Ling Ling segera membantunya.
“Dokter bilang elu gak boleh banyak gerak, gak boleh banyak jalan. Elu harus istirahat total.”ujar Ling Ling meniru pesan dokter.
“Oh ya, trus tadi acaranya gimana?”tanya Joan cemas.
“Ck, bukannya cemasin diri sendiri”Ling Ling mengomel lagi. Joan menatapnya penuh harap.
“Acaranya lancar kok, gue yang gantiin elu tadi, entah apa yang gue bilang gue juga gak jelas, pikiran gue udah entah kemana waktu gue nelpon elu eh yang angkat dokter jaga igd, mana ada suara ngaduh-ngaduh elu jadi back soundnya pula.”
Joan tersenyum geli, melihat Ling Ling sewot. Ling Ling masih meneruskan omelannya.
“Gue kan udah bilang ama elu grand openingnya gue undur 30 menit, kenapa juga…”suara Ling Ling tercekat. Matanya memerah. Joan kini menarik Ling Ling mendekat, Ling Ling duduk di bibir tempat tidur Joan memeluknya.
“Gue gak apa-apa kok.”hibur Joan.
“Elu tuh suka banget bikin orang cemas.”ujar Ling Ling di antara isaknya. Ling Ling memang satu-satunya sahabat yang dimiliki Joan, itupun karena Ling Ling adalah teman dari sma kelas 2, ketika Joan pindah ke Jakarta sesaat setelah kedua orangtua Joan meninggal di Australia. Joan yang anak tunggal memang memiliki sifat tertutup. Sehingga hanya Ling Ling yang tahan berteman dengan Joan. Pelan-pelan Ling Ling merubah Joan menjadi lebih terbuka dan ramah. Ling Ling juga belajar lebih tabah , tegar dan tidak cengeng dari Joan. Mereka saling melengkapi satu sama lain. That’s what friend are for.
Hari kelima di rumah sakit membawa penyesalan yang luar biasa di hati Joan. Menyesal karena sudah berjanji pada Ling Ling akan istirahat total di rumah sakit selama 2 minggu dan tidak akan menyentuh pekerjaan. Ling Ling juga tidak mengijinkannya pulang ke apartemen dengan alasan tidak ada yang merawat Joan, karena Joan tinggal sendiri di apartemennya.
“Elu boleh pulang kalo diijinin ama dokter, masalah kerjaan don’t worry lah ada gue lagian sebagian besar kan cuma tinggal finishing touch aja kan. Awas kalo elu kabur dari sini.”ancam Ling Ling.
Joan menyesal, dia mati bosan karena tidak mengerjakan apa apa selama di rumah sakit. Sampai hari ketiga Joan masih bisa menganggap dia sedang cuti atau liburan jadi bisa tidur lebih lama dan bersantai. Tapi, mulai kemarin dia sama sekali tidak nyaman. Menganggur ternyata pekerjaan yang sangat berat. Bahkan majalah serta dvd-dvd film yang di bawa Ling Ling sebagai penghibur juga gak cukup. Joan bukan tipe yang hobi nonton atau membaca. Bukan tipenya, sekarang rasanya dia akan mati bosan.
“Kenapa gak chatting aja?”saran Vina, perawat rumah sakit yang dalam beberapa hari ini dekat dengan Joan.
“Chatting?”ulang Joan. Vina yang sedang sibuk mengganti sprei tempat tidur Joan mengangguk.
“Mbak kan punya laptop tuh, akses internet disini juga lumayan.”tambahnya. Benar juga, Joan tidak pernah berpikir seperti itu.
“Tapi, aku belum pernah gabung di situs-situs komunitas atau milis semacam itu.”keluh Joan.
“Gak masalah lho mbak, gabung aja di komunitas bebas, kan cuma buat ilangin suntuk.”Vina melipat sprei kotor lalu memasukkannya ke dalam keranjang tumpukan sprei kotor dari kamar lain.
“Kalo mbak gak mau ketahuan identitasnyakan bisa nyamar, mbakbisa jadi siapa aja koq, gak ada yang larang.”ujar Vina sebelum akhirnya keluar dari ruang rawat Joan, meninggalkan Joan yang diliputi rasa pemasaran. Kenapa ide chattingtidak terpikir olehnya, dan gak ada salahnya mencoba. Maka dengan agak terpincang-pincang Joan meraih laptopnya dan membawanya ke atas tempat tidur lalu mulai mewujudkan ide Vina. Joan memilih gabung dengan komunitas bebas seperti yang disarankan Vina.
Langkah pertama benar seperti yang dibayangkannya, harus kasih identitas dan tidak ada persyaratannya, Vina benar, Joan bisa menyamar jadi siapa saja yang dia mau. Maka Joan mulai bingung, ingin jadi sosok seperti apa di komunitas ini. Cewek atau cowok, kaya atau miskin, tua atau muda, Joan berdebar-deba. Ini pertama kalinya dia melakukan hal seru semacam ini. Bebas, ya bebas menentukan karakternya sendiri ingin jadi siapa. Tapi, setelah lama berpikir , Joan memututskan menjadi dirinya sendiri. Dia menuliskan email pribadinya yang asli dibagian address, umur dan kota tempat tinggalnya juga tidak disamarkan kecuali nama. Joan hanya mengisi initial namanya saja sedangkan untuk nickname, Joan terinspirasi dari isi kulkasnya yang paling dirindukannya, sehingga nicnamenya menjadi Ice_Dream. Satu kali Klik, dan dimulailah petualangan Joan dikomunitas maya.
Dalam hitungan detik, mulai banyak yang mengajak ‘Ice_Dream’kenalan dan ngobrol. Joan semakin antusias. Tiba-tiba saja Joan sibuk meladeni teman-teman baru dari dunia maya. Kebosananpun sirna karena adrenalin Joan tertantang untuk mengetahui siapa saja teman-teman barunya itu. Joan penasaran, jujurkah mereka dengan apa yang mereka katakan. Dan sebagainya dan sebagainya.
Dan sejak saat itu, Joan tidak alagi mengeluh bosan atau suntuk.Dia melewati hari-hari dengan seru di rumah sakit. Ada saja hal-hal seru yang di bahas ketika chatting atau apa saja. Joan tidak mempermasalahkan dari mana dan siapa mereka. Meskipun ada satu dua individu yang anehbahkan ‘keterlaluan’ dalam bergaul dengannnya, Joan hanya tingal mendiamkan mereka saja. Cukup simple, gak ada yang bisa mengaturnya ketika chatting.
Ling Ling senang meskipun sedikit heran melihat sahabtnya begitu menikmati aktivitas baru. Joan layaknya anak-anak yang sedang mendapat mainan baru.
“Asal loe seneng dan gak uringan-uringan nelpon gue 10 menit sekali nanyain bisnis dan minta pulang, buatlah sesuka elu.”pasrah Ling Ling ketika Joan membicarakan hobi barunya itu.
Hari ke 7 di rumh sakit, Joan terlihat terbiasa dengan pola menjalani hari. Bangun pagi, mandi dibantu Vina lalu makan pagi, setelah itu dikunjungi dokter lalu baru dia bisa mulai pegang laptop. Untuk apalagi selain untuk chatting. Laptop on, Ice_dream go!
Baru aktif sebentar, ada yang mengajak Ice_Dream kenalan.
poor_prince : hi…leh knln?
Ice_Dream : leh dunk, asl pls
poor_prince : 24 male jkt, n u ?
Ice_Dream : 27 female jkt.
poor_prince : ow, leh nanya?
Ice_Dream : silahkan
poor_prince : knp Ice_dream?
Ice_Dream : biar gak biasa…
Ice_Dream : same question, knp poor_prince?
poor_prince : Krn aq mmg pangeran tnp kerajaan..
poor_prince : kamu kerja atau ibu rmh tgga?
Ice_Dream : duh, kasian bener. emang ada gitu ibu rmh tgg yg iseng chatting?
poor_prince : who knows? skrg apa c yg g mgkn, jgn trllu naïf dlm ngejudge dunia, everything could be happen
Ice_Dream : cieee. pangeran yang bijak, kamu krj atw kul?
poor_prince : aq artis lho!!
Ice_Dream : yeah right, kalo lu artis gw adlh wanita karir yg sukses dan supersibuk
poor_prince : hahaha…what ever u say ! So, kmu single dunk?
Ice_Dream : yup, resmi amat pke kmu aq…
poor_prince : kebiasaan, gak bs dirubah lg jd@, aq lbih suka ber-aq kmu, kesannya sopan dan berkelas, ditempat aq kerja qt hrz punya ciri khas sendiri.
Ice_Dream : ow, ok deh, aq ikutan aja…
Begitulah selanjutnya, Joan menemukan teman yang benar-benar cocok dengannya. Poor_prince yang gak punya istana itu menjadi teman favorite Joan. Tidak memaksa, tidak menjudge, lucu tapi tenang walau kadang rada gila. Joan tidak pernah bosan untuk mengobrol dengannya.
Hari ke delapan Joan di rumah sakit. Selesai kunjungan dokter joan tak sabar melanjutkan pembicaraan dengan poor_prince. Bahasan mereka tentang ciuman pertama sungguh membuat Joan berdebar-debar. Jujur saja, Joan salah satu korban “never been kissed” sedangkan poor_prince ngakunya sudah sering mencium cewek yang kebanyakan bukanlah pacarnya.
poor_prince : scra aq artis, wajar dunk kalo srg nyium cewek lawan mainku…
Ice_Dream : yeah right, rasanya apa?
poor_prince : sm aja kyk yg km rs wktu slsai buat kontrak dan langsung disetujui oleh klien kmu
Ice_Dream : lhoo koq dismain sm kerjaan aq
poor_prince : ya iyalah aqkan nyium itu jg krn kerjaan
Ice_Dream : hohoho
Ice_Dream : tp kerjaan kyk gt nguntungin bgt y buat cwok
poor_prince : gak jugalah, aq sering ngerasain jengah kalo harus adegan peluk atau cium
Ice_Dream : knp?
poor_prince : krn tkut
Ice_Dream : tkut apa?
poor_prince : tkut kalo ntar aq ktmu cwek yg bener2 aq cinta, dy@ gak pcy sm kt2 aq krn terllu sering liat aq acting mcm2.
Ice_Dream : oooooh, kalo dy cinta ama kmu jg pasti dy ngerti koq
poor_prince : yg bener?
Ice_dream : bener!! jamin deh!! tapi aq gak berani jamin bahwa org spt itu ada
poor_prince : org yg mencintai atau orang yang memahami?
ice_dream : keduanya…yg mencintai sekaligus memahami
poor_prince : ow ow ow, ada yg mw diceritakan ? aq siap dengerin koq..
Ice_dream : sok pengertian bgt c kmu!!
Ice_dream : tapi iy c, aq kan pernah cerita kalo aq tuh sibuk bgt ama kerjaan aq, smpe2 gak sempat bwt bergaul, hinggga akhirnya jomblo
poor_prince : truz?
ice_dream : ya itu td, gak ada cwok yg bner2 sbr dgn kesibukan aq, kesan@ aq gak buth cwok
poor_prince : emg kmu bener2 g sempat kalo untk kencn, atw mkn siang atw dinner?
Ice_dream : mw@ gitu pi gak bisa, slalu aj ad yg buat aq tb2 harus batalin, ya gr2 kerjaan jg c
poor_prince : kalo gitu nikmatin dulu aj kerjaan kmu, mgkn belum saat@ aja…
poor_prince : buzz
poor_prince : kmu mash disitu kan?
Ice_dream : iya, eh kmu mkir@ koq sama dgn aq? aq jg blg gt ke tmen aq yg berusha bgt knlin aq ke cwok2
poor_prince : oh ya? bgus dunk, arti@ qt sepikiran…=>
Joan merasa nyaman ngobrol sama poor_prince karena poor_prince dianggap memahami isi hati Joan. Tanpa perduli siapa poor_prince sebenarnya apa pekerjaannya dan dimana dia sekarang. Poor_prince juga tidak pernah bertanya tentang identitas Joan. Bagi Joan, ini cuma sementara, selama Joan istirahat aja, ntas ketika udah balik aktif kerja lagi mana mungkin dia bisa meneruskan chatting2an kayak gini.
Hari ke sembilan, poor_prince tidak muncul. Joan kesepian. Vina juga belum jenguk Joan, padahal Joan udah gerah banget pengen mandi sore, tapi gak bisa sendirian. Tiba-tiba pintu dibuka, Ling Ling datang dengan beberapa bungkusan.
“Halo pasien.” sapanya riang sambil cipika-cipiki. Ling Ling langsung ngeh sama sobatnya yang kelihatan bete banget sore ini.
“Kenapa lu? Kusut banget?”tanya Ling Ling.
“Sepi banget, temen chatting gue gak muncul, Vina juga gak tahu kemana, udah jam 5 dan gue belum mandi sore.”keluh Joan.
“Yee, siapa suruh rahasiain lu masuk rumah sakit dan bilangnya lagi tugas keluar kota, coba kalo gak pasti banyak yang jenguk elu.” repet Ling Ling sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan yang dibawanya. Sebuah kamera Polaroid. Ling Ling langsung memotert Joan yang agak bengong dengan tingkah laku sahabatnya.
Ckrek.
“Apaan sih?”Joan menutupi wajahnya tapi telat, Ling Ling berhasil memotretnya. Selembar foto keluar dari kamera, ada Joan yang lagi kucel di sana. Ling Ling mengambil pulpen dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu di bawah foto lalu menyerahkannya ke Joan.
“Joan lagi suntuk di rumah sakit”Joan membaca tulisan di foto.
“Ini apa?”tanya Joan.
“Ini buat elu.”jawab Ling Ling sambil menyerahkan kamera Polaroid ke tangan Joan.
“Foto yang dibuat kamera Polaroid adalah foto yang cuma satu ada di dunia. Aku beliin buat kamu, biar kamu terhibur, elu kan udah bisa jalan dikit-dikit tuh, apa salahnya jalan di sekitar sini trus potret yang bisa jadi kenangan elu, lalu…”Ling Ling mengeluarkan sebuah kotak cantik dari bungkusan yang lain “masukkin ke dalam sini”
Joan memandang Ling Ling, sahabatnya ini emang penuh kejutan. Ling Ling tersenyum.
“Makasih ya.”ujar Joan lembut. Ling Ling masih tersenyum. Pintu dibuka lagi, Vina nongol sambil terengah-engah.
“Maaf mbak, saya telat hari ini. Mbak mau mandi sekarang?”tanyanya. Tadinya Joan mau ngusilin Vina dengan pura-pura ngambek, tapi ngeliat Vina kecapean Joan tidak tega, dia langsung mengangguk. Vina langsung membantu Joan turun dari ranjang dan memapahnya ke kamar mandi.
“Koq telat Vin?”tanya Ling Ling.
“Oh itu…eh anu…”Vina gagap. Joan berhenti berjalan dan memandangi Vina menunggu jawaban. Vina jadi salah tingkah.
“Kenapa?”desak Joan.
“Itu mbak, di kamar ujung ada artis. Saya baru tahu tadi, jadi saya minta tanda tangan, saya pikir gak ada orang lain rupanya ramai mbak, gak cuma perawat keluarga pasien juga mau tanda tangan ama foto bareng, jadi harus ngantri.”jawab Vina polos. Joan ama Ling Ling cuma geleng-geleng kepala.
“Gila tuh artis, buka jumpa fans di rumah sakit.”komen Ling Ling.
“Bukan gitu mbak, mas Stephen itu emang ramah.”bela Vina.
“Tapi ini kan rumah sakit, mana boleh gitu.”ujar Ling Ling lagi.
“Justru itu mbak, mas Stephen itu jarang gaul, jarang keliatan kecuali di film-film, artis eksklusif gitu mbak.”Vina masih membela. Ling Ling makin tergoda untuk melihat sejauh mana perjuangan Vina membela artis pujaannya itu.
“Tapi, dia kan harusnya istirahat, kenapa malah melayani fans, bukannya dia sakit, jangan-jangan cuma pura-pura, pasti ada apa-apa.”kali ini Ling Ling pura-pura curiga.
“Dia beneran sakit lho mbak, dehidrasi. Tapi udah baikan, tinggal pemulihan aja, cuma karena manajernya khawatir jadi tetap di sini sekalian istirahat total gitu lho mbak. Dia artis baik-baik, setahu saya dia belum pernah punya skandal atau gossip miring.”Vina terpancing dengan Ling Ling.
“Udah-udah, apaan sih ributin orang.”Joan menengahi, dia sudah selesai mandi, Vina memapahnya kembali ke ranjang.
“Emang lu tahu siapa artis itu, Ling?”
Ling Ling menggeleng dua kali. Vina mendengus melihatnya. Ling Ling terkekeh bersama Joan melihat reaksi Vina.
“Vina, ceritain dong tentang artis pujaan kamu itu.”pinta Joan. Vina yang mulai menyisir rambut Joan kontan gembira, wajahnya berbinar-binar.
“Namanya Ray Stephen mbak, orangnya cakep banget. Dia jarang muncul di televisi karena dia gak mau main sinetron sembarangan apalagi yang tiap hari tayang itu, apa ya namanya?”Vina mikir sejenak.
“Sinetron stripping”sahut Ling Ling gak sabar.
“Nah itu dia, mas Stephen itu cuma mau main film dan sinetron mini seri gak lebih dari 20 episode.”jelas Vina panjang lebar.
“Termasuk sombong dong kalo gitu.”komen Joan.
“Bukan sombong mbak, tapi gak pasaran, itu kata fansnya, termasuk saya.” tambah Vina bangga.
Ling Ling bangkit dari sofa, lalu pamit pulang, setelah cipika cipiki dengan Joan diapun berlalu, Vina juga pergi begitu selesai menyisir rambut Joan.
“Sepi lagi.”gumam Joan. Waktu terasa lambat ketika kesepian. Joan juga merasa begitu. Malam tiba tanpa permisi, dan Joan masih kesepian. Setelah makan malam Joan perlahan turun dari tempat tidurnya. Berjalan lambat keluar karena kaki kanannya masih di gips, dibantu beberapa tongkat. Joan ingin mencari udara segar, tapi dia harus hati-hati, jangan sampai ketahuan perawat jaga.
Pelan tapi pasti Joan melangkah dengan tertatih, melewati kamar demi kamar pasien lain. Di beberapa pintu kamar yang sedikit terbuka, Joan bisa melihat pasien yang dikunjungi keluarga, kerabat atau teman si pasien. Suasananya terlihat hangat. Tapi, ada juga yang sedang cemas bahkan menangis, entah apa yang terjadi tapi yang pasti bukan hal yang baik. Joan menghela nafasnya. Joan merasa kesepian, Ling Ling tidak mengunjunginya malam ini, karena memang dilarang oleh Joan. Hampir setiap malam selama Joan di rawat, Ling Ling datang berkunjung, kecuali ada pekerjaan. Meskipun Ling Ling tidak keberatan sama sekali tapi, bagaimanapun Ling Ling punya kehidupan sendiri. Dan di dalam kehidupannya itu ada seorang pria bernama Sammy, pacarnya. Sammy memang baik tapi bukan berarti Joan bisa memanfaatkan kebaikan Sammy dengan terus terusan memonopoli Ling Ling. Mereka juga butuh waktu berdua, dan malam ini seharusnya mereka sedang makan, nonton atau apa saja, melakukan kegiatan rutin layaknya orang pacaran.
Tanpa sadar Joan sudah sampai di ujung koridor yang otomatis dekat dengan tempat perawat jaga. Benar saja, dari jauh Joan melihat dua orang perawat sedang berjalan ke arahnya. Kalau balik ke kamarnya sendiri bakal lama, tapi kalau berdiri di situ terus bakal ketahuan. Tanpa ba bi bu lagi, Joan mengambil inisiatif untuk masuk ke salah satu kamar pasien yang ada di dekatnya. Sesaat kemudian perawat-perawat itu berjalan melewati kamar tempatnya bersembunyi tanpa menyadari bahwa ada pasien bernama Joan menyelinap.
“Kamu siapa?”
Sebuah suara mengagetkan Joan, dia berbalik mencari sumber suara dan mendapati seorang cowok dengan seragam pasien yang sama dengannya duduk di atas ranjang. Di hadapan cowok itu ada sebuah laptop.
“Sa…saya pasien juga di sini.” jawab Joan tergagap.
“Sedang apa di sini?”tanya cowok itu lagi. Suaranya terdengar ramah tapi wajahnya tetap dingin.
“Bosen di kamar, jadi pengen jalan-jalantapi keterusan dantadi ada perawat, karena takut ketahuan makanya sembunyi di sini, saya gak ada niat jahat koq.”jelas Joan panjang lebar sambil memperhatikan cowok itu. Umurnya kira-kira 24 atau 25 tahunan, untuk ukuran cowok dia di atas standar alias cakep dan imut. Meskipun tidak melihat dari dekat dengan jelas, tapi Joan bisa menilai bahwa mungkin saja cowok itu belasteran. Dan yang paling menarik perhatian Joan adalah bentuk rahang cowok itu yang tegas membuatnya terlihat macho.
“Kamu demam?”
Joan sadar dari lamunannya “Hah?”
“Soalnya muka kamu merah banget tuh.”katanya lagi. Ups, Joan salah tingkah. Dadanya berdebar-debar, entah kenapa dia jadi begitu gugup. Ada sesuatu yang sedang terjadi, hatinya terasa seperti digelitik.
“oh, ini ini karena pengaruh obat. By the way, kayaknya saya mesti balik, makasih atas tumpangan sembunyinya.”dengan sekuat tenaga secepat mungkin Joan berusaha keluar dari kamar itu.
To be continued.......
Tapi gak tahu kapan nyambungnya neh cerita~~~
Cuma pengen ngepost aja~~hahahaha~~~
2. Still businnes
3. Absolutly businnes
Itu adalah tiga hal yang selalu menjadi prioritas Michelle Joan. A young (because she just 27 years old) carrier woman. Bisnis, klien, kontrak, sukses adalah kata-kata yang selalu ada dalam kamusnya. Guest what?! Joan (dia suka dipanggil begitu) membuat kamusnya sendiri. Dan kesuksesan adalah kata yang paling banyak memiliki arti. Kesuksesan adalah kerja keras, kesuksesan adalah disiplin, kesuksesan adalah kerja sama, kesuksesan adalah kesabaran, kesuksesan adalah bla bla bla, dan masih banyak arti lagi untuk kesuksesan.
So, memang begitulah tipe wanita karir. Sebenarnya dibalik karirnya yang cermelang sebagai pengembang usaha, Joan hanyalah wanita biasa. Seberapapun dingin tangannya dalam bisnis, sama seperti wanita seumurnya dia juga suka ke salon, nonton gossip, punya perasaan bersalah kalau makan terlalu banyak es krim dan punya hobby belanja bersama sahabat setianya Ling-Ling yang juga partnernya dalam bekerja.
Cantik, ramah, mapan dan berusia 27 tahun. Pria mana yang tidak menginginkannya. Hanya saja dengan seabrek kegiatan itu, tentu saja para pria itu harus rela menunggu untuk mendekatinya. Maka dari itu sampai sekarang Joan belum punya pacar dan belum pernah pacaran. Ling-ling saja hampir menyerah membuatnya memiliki pendamping. Hampir semua pria yang Ling Ling kenalkan pada Joan menyerah dengan kesibukkan Joan.
“Gue kan harus profesional Ling Ling, my bussines is my priority, you know that.”ujar Joan membela diri saat Ling Ling menginterogasinya di kantor pagi-pagi begitu Joan tiba di café baru yang akan mereka bangun. Penyebab Ling ling melotot dan mengintrogasinya adalah karena lagi-lagi Joan membatalkan janji dengan Edward,pria yang ingin dijodohkan Ling Ling padanya.
“Sebenarnya dalam hati gue berjanji, bahwa Edward adalah pria terakhir yang gue kenalin ke elu.Tau kenapa?”tanya Ling Ling. Joan menggeleng tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptopnya.
“Karena Edward adalah pria tersabar yang pernah gue kenal.”ujar Ling Ling. Joan tidak bergeming,masih berkutat dengan laptopnya.
“Tapi, elu gak bisa gitu, gimanapun dia udah coba untuk sabar, apa salahnya temui dia sekali lagi, dia itu orang yang baik.”
Joan masih berkutat dengan laptopnya. Ling Ling menghela nafas.
“Elu boleh bangga dengan keprofesionalan lu di bisnis, tapi dalam relationship with a man, you are zero.” ujar Ling Ling sinis. Joan menatap Ling Ling tajam.
“Oke gue salah, tapi seharusnya dia bisa kasih gue kesempatan lagi kan, kalo emang dia sebaik kata elu.”Joan masih berusaha membela diri.
“Oh ya sampai kapan dia harus sabar, kesabaran ada batasnya Joan.”
“Kesabaran tidak pernah berbatas, karena kalo itu berbatas namanya bukan lagi kesabaran.”bantah Joan cepat membuat Ling Ling bungkam. Hening sesaat. Joan tahu bahwa niat Ling Ling baik. Ling Ling memang selalu mengerti, itulah kenapa Joan mau berusaha dekat dengan pria-pria yang dikenalkan Ling Ling. Tapi, selalu gagal karena kesibukkannya.
“Mungkin bukan sekarang, mungkin ini bukan saat yang tepat buat gue dekat dengan cowok. Secara bisnis yang gue rintis lagi seabrek-abreknya.”Joan berusaha membujuk Ling Ling.
“Trus kapan?”akhirnya Ling Ling kembali bicara. Cukup membuat Joan lega.
“Dunno, tapi gue yakin saat itu pasti datang.Dan kalo saatnya datang elu orang pertama yang gue beritahu.”janji Joan. Ling Ling tersenyum melihat sahabatnya. Memang Joan bukan tipe yang bisa dipaksa.
“Ok. Terserah elu, tapi yang perlu elu ingat, bisnis dan cowok itu dua hal yang berbeda. Mungkin elu bisa prediksi bisnis tapi cowok tidak bisa ditebak.”
Sekarang Joan yang tersenyum mendengar Ling Ling berceramah.
“Tapi keduanya punya kesamaan.”bantah Joan.
“Apa?”tanya Ling Ling penasaran
“Sama-sama butuh sentuhan wanita.”jawab Joan kocak sambil mengedip-ngedipkan matanya. Mereka lalu tertawa bersama.
Usai tertawa Ling Ling menyerahkan setumpuk dokumen pada Joan.
“Ada proposal baru yang datang hari ini, dan beberapa kontrak yang perlu elu pelajari, sebagian udah gue review dan gak ada masalah tapi coba elu cek ulang, kali aja gue khilaf.”
Joan memeriksa dokumen-dokumen itu dengan seksama.
“Gimana dengan omset salon yang kita buka 3 bulan lalu?”tanya Joan.
“Semakin bagus dan meningkat, memang belum balik modal tapi target kita kan 6 bulan, dari hasil pantauan gue awal bulan ke lima mungkin sudah balik modal.”jawab Ling Ling tegas. Joan mengangguk-angguk puas.
“Oh ya, bagaimana denga persiapan grand opening bar & café yang untuk minggu depan, udah fix semuanya?”
“Delapan puluh lima persen udah rampung, kemarin EO yang kita sewa udah selesai membagikan undangan dan membereskan sponsor serta pengisi acara, hanya tinggal sentuhan akhir aja.”
“Konsepnya?”
“Investor kita setuju dengan konsepnya, gak ada masalah.”
Joan tersenyum puas mendengar penjelasan sahabatnya.
“Apa yang bisa gue buat tanpa elu Ling Ling?”puji Joan.
“Pasti gak ada” jawab Ling Ling sekenanya. Lalu tersenyum dan keluar dari ruangan Joan dengan berpura-pura angkuh. Joan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Ponsel Joan bernyanyi.
Edward memanggil..
“Halo, Edward? Aku…”
“Tidak usah minta maaf.”potong Edward cepat”Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal.”katanya pelan.
“Selamat tinggal?”ulang Joan.
“Iya, malam ini aku akan terbang ke London, mengurus cabang perusahaan yang di sana, mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat.”suara Edward semakin tidak terdengar. Hening tercipta.
“Oh, selamat jalan.”ujar Joan akhirnya.
“Kita, apa memang tidak mungkin?”tanya Edward tiba-tiba. Joan terdiam.
“Aku hanya butuh kesempatan, mungkin kamu tidak bisa memberinya sekarang, tapi ketika aku kembali, aku harap akan ada banyak kesempatan untukku.”ujarnya lembut. Joan tidak dapat berkata, dalam hatinya diliputi rasa bersalah yang amat besar. Edward jelas-jelas menyukainya dan mengharapkannya. Joan menyadari bahwa dia sudah berlaku keterlaluan pada banyak pria tapi baru kali ini seseorang seperti Edward tidak menyerah mudah.
”Kenapa diam? Apa permintaanku terlalu berlebihan?”suara Edward membuyarkan lamunan Joan.
“Ah, itu…aku…”Joan tergagap.
“It’s ok. Kita lihat saja nanti. Selamat tinggal. Bye.”
Klik. Dan Edward mengakhiri segalanya bahkan sebelum Joan sempat minta maaf.
“Maafkan aku Edward.”gumam Joan, suaranya tercekat. Jika saja dia datang pada hari janjian mereka yang terakhir, mungkin ceritanya akan lain. Semua pria yang mendekati Joan, menyerah pada pembatalan makan malam yang kedua. Tapi Edward, dia tidak pernah marah bahkan Joan yakin bahwa kali ini Edward memberikannya waktu untuk berpikir dan juga mempertimbangkan perlakuan Edward selama ini. Dalam hati Joan berjanji akan memberikan kesempatan pada Edward dan dirinya sendiri.
Joan masih terlelap di tempat tidurnya ketika jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Semalam dia menghadiri gladiresik grand opening café yang pada hari ini tepat jam 9.30 nanti akan di gelar grand openingnya. Tentu saja dia masih lelah karena semalam baru tidur jam 2 pagi. Demi menghadiri grand opening café itu dia harus segera menyiapkan beberapa bahan presentasi sekaligus.
Ponselnya bergetar terus menerus, Joan bergerak sedikit mengambil ponselnya. Tertera nama Ling Ling di sana.
“Halo…”sapa Joan di antara kantuknya.
“Woi!! Putri Tidur!! Cepat bangun, siap-siap!! Ini sudah jam berapa? Sadarlah!!”sembur Ling Ling yang langsung memberi efek nyata. Tanpa ba bi bu Joan bangun dan semakin panik begitu menyadari sekarang sudah pukul berapa. Mandi secepat kilat dan berdandan seadanya dia langsung melarikan mobilnya ke café baru itu.
Satu hal yang tidak dibenarkan adalah mengebut dan melanggar peraturan lalu lintas berapapun terburu-burunya seseorang. Karena selain berbahaya untuk orang lain juga berbahaya untuk diri sendiri. Buktinya Joan yang seharusnya tiba di café sambil memberi kata sambutan, tapi malah berakhir di rumah sakit dengan kaki di gips.
“Hei, gue nyuruh elu segera tiba bukan segera mati, dasar!”omel Ling Ling. Dia sedang menjenguk Joan yang masih terbaring lemah. Joan berusaha duduk, Ling Ling segera membantunya.
“Dokter bilang elu gak boleh banyak gerak, gak boleh banyak jalan. Elu harus istirahat total.”ujar Ling Ling meniru pesan dokter.
“Oh ya, trus tadi acaranya gimana?”tanya Joan cemas.
“Ck, bukannya cemasin diri sendiri”Ling Ling mengomel lagi. Joan menatapnya penuh harap.
“Acaranya lancar kok, gue yang gantiin elu tadi, entah apa yang gue bilang gue juga gak jelas, pikiran gue udah entah kemana waktu gue nelpon elu eh yang angkat dokter jaga igd, mana ada suara ngaduh-ngaduh elu jadi back soundnya pula.”
Joan tersenyum geli, melihat Ling Ling sewot. Ling Ling masih meneruskan omelannya.
“Gue kan udah bilang ama elu grand openingnya gue undur 30 menit, kenapa juga…”suara Ling Ling tercekat. Matanya memerah. Joan kini menarik Ling Ling mendekat, Ling Ling duduk di bibir tempat tidur Joan memeluknya.
“Gue gak apa-apa kok.”hibur Joan.
“Elu tuh suka banget bikin orang cemas.”ujar Ling Ling di antara isaknya. Ling Ling memang satu-satunya sahabat yang dimiliki Joan, itupun karena Ling Ling adalah teman dari sma kelas 2, ketika Joan pindah ke Jakarta sesaat setelah kedua orangtua Joan meninggal di Australia. Joan yang anak tunggal memang memiliki sifat tertutup. Sehingga hanya Ling Ling yang tahan berteman dengan Joan. Pelan-pelan Ling Ling merubah Joan menjadi lebih terbuka dan ramah. Ling Ling juga belajar lebih tabah , tegar dan tidak cengeng dari Joan. Mereka saling melengkapi satu sama lain. That’s what friend are for.
Hari kelima di rumah sakit membawa penyesalan yang luar biasa di hati Joan. Menyesal karena sudah berjanji pada Ling Ling akan istirahat total di rumah sakit selama 2 minggu dan tidak akan menyentuh pekerjaan. Ling Ling juga tidak mengijinkannya pulang ke apartemen dengan alasan tidak ada yang merawat Joan, karena Joan tinggal sendiri di apartemennya.
“Elu boleh pulang kalo diijinin ama dokter, masalah kerjaan don’t worry lah ada gue lagian sebagian besar kan cuma tinggal finishing touch aja kan. Awas kalo elu kabur dari sini.”ancam Ling Ling.
Joan menyesal, dia mati bosan karena tidak mengerjakan apa apa selama di rumah sakit. Sampai hari ketiga Joan masih bisa menganggap dia sedang cuti atau liburan jadi bisa tidur lebih lama dan bersantai. Tapi, mulai kemarin dia sama sekali tidak nyaman. Menganggur ternyata pekerjaan yang sangat berat. Bahkan majalah serta dvd-dvd film yang di bawa Ling Ling sebagai penghibur juga gak cukup. Joan bukan tipe yang hobi nonton atau membaca. Bukan tipenya, sekarang rasanya dia akan mati bosan.
“Kenapa gak chatting aja?”saran Vina, perawat rumah sakit yang dalam beberapa hari ini dekat dengan Joan.
“Chatting?”ulang Joan. Vina yang sedang sibuk mengganti sprei tempat tidur Joan mengangguk.
“Mbak kan punya laptop tuh, akses internet disini juga lumayan.”tambahnya. Benar juga, Joan tidak pernah berpikir seperti itu.
“Tapi, aku belum pernah gabung di situs-situs komunitas atau milis semacam itu.”keluh Joan.
“Gak masalah lho mbak, gabung aja di komunitas bebas, kan cuma buat ilangin suntuk.”Vina melipat sprei kotor lalu memasukkannya ke dalam keranjang tumpukan sprei kotor dari kamar lain.
“Kalo mbak gak mau ketahuan identitasnyakan bisa nyamar, mbakbisa jadi siapa aja koq, gak ada yang larang.”ujar Vina sebelum akhirnya keluar dari ruang rawat Joan, meninggalkan Joan yang diliputi rasa pemasaran. Kenapa ide chattingtidak terpikir olehnya, dan gak ada salahnya mencoba. Maka dengan agak terpincang-pincang Joan meraih laptopnya dan membawanya ke atas tempat tidur lalu mulai mewujudkan ide Vina. Joan memilih gabung dengan komunitas bebas seperti yang disarankan Vina.
Langkah pertama benar seperti yang dibayangkannya, harus kasih identitas dan tidak ada persyaratannya, Vina benar, Joan bisa menyamar jadi siapa saja yang dia mau. Maka Joan mulai bingung, ingin jadi sosok seperti apa di komunitas ini. Cewek atau cowok, kaya atau miskin, tua atau muda, Joan berdebar-deba. Ini pertama kalinya dia melakukan hal seru semacam ini. Bebas, ya bebas menentukan karakternya sendiri ingin jadi siapa. Tapi, setelah lama berpikir , Joan memututskan menjadi dirinya sendiri. Dia menuliskan email pribadinya yang asli dibagian address, umur dan kota tempat tinggalnya juga tidak disamarkan kecuali nama. Joan hanya mengisi initial namanya saja sedangkan untuk nickname, Joan terinspirasi dari isi kulkasnya yang paling dirindukannya, sehingga nicnamenya menjadi Ice_Dream. Satu kali Klik, dan dimulailah petualangan Joan dikomunitas maya.
Dalam hitungan detik, mulai banyak yang mengajak ‘Ice_Dream’kenalan dan ngobrol. Joan semakin antusias. Tiba-tiba saja Joan sibuk meladeni teman-teman baru dari dunia maya. Kebosananpun sirna karena adrenalin Joan tertantang untuk mengetahui siapa saja teman-teman barunya itu. Joan penasaran, jujurkah mereka dengan apa yang mereka katakan. Dan sebagainya dan sebagainya.
Dan sejak saat itu, Joan tidak alagi mengeluh bosan atau suntuk.Dia melewati hari-hari dengan seru di rumah sakit. Ada saja hal-hal seru yang di bahas ketika chatting atau apa saja. Joan tidak mempermasalahkan dari mana dan siapa mereka. Meskipun ada satu dua individu yang anehbahkan ‘keterlaluan’ dalam bergaul dengannnya, Joan hanya tingal mendiamkan mereka saja. Cukup simple, gak ada yang bisa mengaturnya ketika chatting.
Ling Ling senang meskipun sedikit heran melihat sahabtnya begitu menikmati aktivitas baru. Joan layaknya anak-anak yang sedang mendapat mainan baru.
“Asal loe seneng dan gak uringan-uringan nelpon gue 10 menit sekali nanyain bisnis dan minta pulang, buatlah sesuka elu.”pasrah Ling Ling ketika Joan membicarakan hobi barunya itu.
Hari ke 7 di rumh sakit, Joan terlihat terbiasa dengan pola menjalani hari. Bangun pagi, mandi dibantu Vina lalu makan pagi, setelah itu dikunjungi dokter lalu baru dia bisa mulai pegang laptop. Untuk apalagi selain untuk chatting. Laptop on, Ice_dream go!
Baru aktif sebentar, ada yang mengajak Ice_Dream kenalan.
poor_prince : hi…leh knln?
Ice_Dream : leh dunk, asl pls
poor_prince : 24 male jkt, n u ?
Ice_Dream : 27 female jkt.
poor_prince : ow, leh nanya?
Ice_Dream : silahkan
poor_prince : knp Ice_dream?
Ice_Dream : biar gak biasa…
Ice_Dream : same question, knp poor_prince?
poor_prince : Krn aq mmg pangeran tnp kerajaan..
poor_prince : kamu kerja atau ibu rmh tgga?
Ice_Dream : duh, kasian bener. emang ada gitu ibu rmh tgg yg iseng chatting?
poor_prince : who knows? skrg apa c yg g mgkn, jgn trllu naïf dlm ngejudge dunia, everything could be happen
Ice_Dream : cieee. pangeran yang bijak, kamu krj atw kul?
poor_prince : aq artis lho!!
Ice_Dream : yeah right, kalo lu artis gw adlh wanita karir yg sukses dan supersibuk
poor_prince : hahaha…what ever u say ! So, kmu single dunk?
Ice_Dream : yup, resmi amat pke kmu aq…
poor_prince : kebiasaan, gak bs dirubah lg jd@, aq lbih suka ber-aq kmu, kesannya sopan dan berkelas, ditempat aq kerja qt hrz punya ciri khas sendiri.
Ice_Dream : ow, ok deh, aq ikutan aja…
Begitulah selanjutnya, Joan menemukan teman yang benar-benar cocok dengannya. Poor_prince yang gak punya istana itu menjadi teman favorite Joan. Tidak memaksa, tidak menjudge, lucu tapi tenang walau kadang rada gila. Joan tidak pernah bosan untuk mengobrol dengannya.
Hari ke delapan Joan di rumah sakit. Selesai kunjungan dokter joan tak sabar melanjutkan pembicaraan dengan poor_prince. Bahasan mereka tentang ciuman pertama sungguh membuat Joan berdebar-debar. Jujur saja, Joan salah satu korban “never been kissed” sedangkan poor_prince ngakunya sudah sering mencium cewek yang kebanyakan bukanlah pacarnya.
poor_prince : scra aq artis, wajar dunk kalo srg nyium cewek lawan mainku…
Ice_Dream : yeah right, rasanya apa?
poor_prince : sm aja kyk yg km rs wktu slsai buat kontrak dan langsung disetujui oleh klien kmu
Ice_Dream : lhoo koq dismain sm kerjaan aq
poor_prince : ya iyalah aqkan nyium itu jg krn kerjaan
Ice_Dream : hohoho
Ice_Dream : tp kerjaan kyk gt nguntungin bgt y buat cwok
poor_prince : gak jugalah, aq sering ngerasain jengah kalo harus adegan peluk atau cium
Ice_Dream : knp?
poor_prince : krn tkut
Ice_Dream : tkut apa?
poor_prince : tkut kalo ntar aq ktmu cwek yg bener2 aq cinta, dy@ gak pcy sm kt2 aq krn terllu sering liat aq acting mcm2.
Ice_Dream : oooooh, kalo dy cinta ama kmu jg pasti dy ngerti koq
poor_prince : yg bener?
Ice_dream : bener!! jamin deh!! tapi aq gak berani jamin bahwa org spt itu ada
poor_prince : org yg mencintai atau orang yang memahami?
ice_dream : keduanya…yg mencintai sekaligus memahami
poor_prince : ow ow ow, ada yg mw diceritakan ? aq siap dengerin koq..
Ice_dream : sok pengertian bgt c kmu!!
Ice_dream : tapi iy c, aq kan pernah cerita kalo aq tuh sibuk bgt ama kerjaan aq, smpe2 gak sempat bwt bergaul, hinggga akhirnya jomblo
poor_prince : truz?
ice_dream : ya itu td, gak ada cwok yg bner2 sbr dgn kesibukan aq, kesan@ aq gak buth cwok
poor_prince : emg kmu bener2 g sempat kalo untk kencn, atw mkn siang atw dinner?
Ice_dream : mw@ gitu pi gak bisa, slalu aj ad yg buat aq tb2 harus batalin, ya gr2 kerjaan jg c
poor_prince : kalo gitu nikmatin dulu aj kerjaan kmu, mgkn belum saat@ aja…
poor_prince : buzz
poor_prince : kmu mash disitu kan?
Ice_dream : iya, eh kmu mkir@ koq sama dgn aq? aq jg blg gt ke tmen aq yg berusha bgt knlin aq ke cwok2
poor_prince : oh ya? bgus dunk, arti@ qt sepikiran…=>
Joan merasa nyaman ngobrol sama poor_prince karena poor_prince dianggap memahami isi hati Joan. Tanpa perduli siapa poor_prince sebenarnya apa pekerjaannya dan dimana dia sekarang. Poor_prince juga tidak pernah bertanya tentang identitas Joan. Bagi Joan, ini cuma sementara, selama Joan istirahat aja, ntas ketika udah balik aktif kerja lagi mana mungkin dia bisa meneruskan chatting2an kayak gini.
Hari ke sembilan, poor_prince tidak muncul. Joan kesepian. Vina juga belum jenguk Joan, padahal Joan udah gerah banget pengen mandi sore, tapi gak bisa sendirian. Tiba-tiba pintu dibuka, Ling Ling datang dengan beberapa bungkusan.
“Halo pasien.” sapanya riang sambil cipika-cipiki. Ling Ling langsung ngeh sama sobatnya yang kelihatan bete banget sore ini.
“Kenapa lu? Kusut banget?”tanya Ling Ling.
“Sepi banget, temen chatting gue gak muncul, Vina juga gak tahu kemana, udah jam 5 dan gue belum mandi sore.”keluh Joan.
“Yee, siapa suruh rahasiain lu masuk rumah sakit dan bilangnya lagi tugas keluar kota, coba kalo gak pasti banyak yang jenguk elu.” repet Ling Ling sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan yang dibawanya. Sebuah kamera Polaroid. Ling Ling langsung memotert Joan yang agak bengong dengan tingkah laku sahabatnya.
Ckrek.
“Apaan sih?”Joan menutupi wajahnya tapi telat, Ling Ling berhasil memotretnya. Selembar foto keluar dari kamera, ada Joan yang lagi kucel di sana. Ling Ling mengambil pulpen dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu di bawah foto lalu menyerahkannya ke Joan.
“Joan lagi suntuk di rumah sakit”Joan membaca tulisan di foto.
“Ini apa?”tanya Joan.
“Ini buat elu.”jawab Ling Ling sambil menyerahkan kamera Polaroid ke tangan Joan.
“Foto yang dibuat kamera Polaroid adalah foto yang cuma satu ada di dunia. Aku beliin buat kamu, biar kamu terhibur, elu kan udah bisa jalan dikit-dikit tuh, apa salahnya jalan di sekitar sini trus potret yang bisa jadi kenangan elu, lalu…”Ling Ling mengeluarkan sebuah kotak cantik dari bungkusan yang lain “masukkin ke dalam sini”
Joan memandang Ling Ling, sahabatnya ini emang penuh kejutan. Ling Ling tersenyum.
“Makasih ya.”ujar Joan lembut. Ling Ling masih tersenyum. Pintu dibuka lagi, Vina nongol sambil terengah-engah.
“Maaf mbak, saya telat hari ini. Mbak mau mandi sekarang?”tanyanya. Tadinya Joan mau ngusilin Vina dengan pura-pura ngambek, tapi ngeliat Vina kecapean Joan tidak tega, dia langsung mengangguk. Vina langsung membantu Joan turun dari ranjang dan memapahnya ke kamar mandi.
“Koq telat Vin?”tanya Ling Ling.
“Oh itu…eh anu…”Vina gagap. Joan berhenti berjalan dan memandangi Vina menunggu jawaban. Vina jadi salah tingkah.
“Kenapa?”desak Joan.
“Itu mbak, di kamar ujung ada artis. Saya baru tahu tadi, jadi saya minta tanda tangan, saya pikir gak ada orang lain rupanya ramai mbak, gak cuma perawat keluarga pasien juga mau tanda tangan ama foto bareng, jadi harus ngantri.”jawab Vina polos. Joan ama Ling Ling cuma geleng-geleng kepala.
“Gila tuh artis, buka jumpa fans di rumah sakit.”komen Ling Ling.
“Bukan gitu mbak, mas Stephen itu emang ramah.”bela Vina.
“Tapi ini kan rumah sakit, mana boleh gitu.”ujar Ling Ling lagi.
“Justru itu mbak, mas Stephen itu jarang gaul, jarang keliatan kecuali di film-film, artis eksklusif gitu mbak.”Vina masih membela. Ling Ling makin tergoda untuk melihat sejauh mana perjuangan Vina membela artis pujaannya itu.
“Tapi, dia kan harusnya istirahat, kenapa malah melayani fans, bukannya dia sakit, jangan-jangan cuma pura-pura, pasti ada apa-apa.”kali ini Ling Ling pura-pura curiga.
“Dia beneran sakit lho mbak, dehidrasi. Tapi udah baikan, tinggal pemulihan aja, cuma karena manajernya khawatir jadi tetap di sini sekalian istirahat total gitu lho mbak. Dia artis baik-baik, setahu saya dia belum pernah punya skandal atau gossip miring.”Vina terpancing dengan Ling Ling.
“Udah-udah, apaan sih ributin orang.”Joan menengahi, dia sudah selesai mandi, Vina memapahnya kembali ke ranjang.
“Emang lu tahu siapa artis itu, Ling?”
Ling Ling menggeleng dua kali. Vina mendengus melihatnya. Ling Ling terkekeh bersama Joan melihat reaksi Vina.
“Vina, ceritain dong tentang artis pujaan kamu itu.”pinta Joan. Vina yang mulai menyisir rambut Joan kontan gembira, wajahnya berbinar-binar.
“Namanya Ray Stephen mbak, orangnya cakep banget. Dia jarang muncul di televisi karena dia gak mau main sinetron sembarangan apalagi yang tiap hari tayang itu, apa ya namanya?”Vina mikir sejenak.
“Sinetron stripping”sahut Ling Ling gak sabar.
“Nah itu dia, mas Stephen itu cuma mau main film dan sinetron mini seri gak lebih dari 20 episode.”jelas Vina panjang lebar.
“Termasuk sombong dong kalo gitu.”komen Joan.
“Bukan sombong mbak, tapi gak pasaran, itu kata fansnya, termasuk saya.” tambah Vina bangga.
Ling Ling bangkit dari sofa, lalu pamit pulang, setelah cipika cipiki dengan Joan diapun berlalu, Vina juga pergi begitu selesai menyisir rambut Joan.
“Sepi lagi.”gumam Joan. Waktu terasa lambat ketika kesepian. Joan juga merasa begitu. Malam tiba tanpa permisi, dan Joan masih kesepian. Setelah makan malam Joan perlahan turun dari tempat tidurnya. Berjalan lambat keluar karena kaki kanannya masih di gips, dibantu beberapa tongkat. Joan ingin mencari udara segar, tapi dia harus hati-hati, jangan sampai ketahuan perawat jaga.
Pelan tapi pasti Joan melangkah dengan tertatih, melewati kamar demi kamar pasien lain. Di beberapa pintu kamar yang sedikit terbuka, Joan bisa melihat pasien yang dikunjungi keluarga, kerabat atau teman si pasien. Suasananya terlihat hangat. Tapi, ada juga yang sedang cemas bahkan menangis, entah apa yang terjadi tapi yang pasti bukan hal yang baik. Joan menghela nafasnya. Joan merasa kesepian, Ling Ling tidak mengunjunginya malam ini, karena memang dilarang oleh Joan. Hampir setiap malam selama Joan di rawat, Ling Ling datang berkunjung, kecuali ada pekerjaan. Meskipun Ling Ling tidak keberatan sama sekali tapi, bagaimanapun Ling Ling punya kehidupan sendiri. Dan di dalam kehidupannya itu ada seorang pria bernama Sammy, pacarnya. Sammy memang baik tapi bukan berarti Joan bisa memanfaatkan kebaikan Sammy dengan terus terusan memonopoli Ling Ling. Mereka juga butuh waktu berdua, dan malam ini seharusnya mereka sedang makan, nonton atau apa saja, melakukan kegiatan rutin layaknya orang pacaran.
Tanpa sadar Joan sudah sampai di ujung koridor yang otomatis dekat dengan tempat perawat jaga. Benar saja, dari jauh Joan melihat dua orang perawat sedang berjalan ke arahnya. Kalau balik ke kamarnya sendiri bakal lama, tapi kalau berdiri di situ terus bakal ketahuan. Tanpa ba bi bu lagi, Joan mengambil inisiatif untuk masuk ke salah satu kamar pasien yang ada di dekatnya. Sesaat kemudian perawat-perawat itu berjalan melewati kamar tempatnya bersembunyi tanpa menyadari bahwa ada pasien bernama Joan menyelinap.
“Kamu siapa?”
Sebuah suara mengagetkan Joan, dia berbalik mencari sumber suara dan mendapati seorang cowok dengan seragam pasien yang sama dengannya duduk di atas ranjang. Di hadapan cowok itu ada sebuah laptop.
“Sa…saya pasien juga di sini.” jawab Joan tergagap.
“Sedang apa di sini?”tanya cowok itu lagi. Suaranya terdengar ramah tapi wajahnya tetap dingin.
“Bosen di kamar, jadi pengen jalan-jalantapi keterusan dantadi ada perawat, karena takut ketahuan makanya sembunyi di sini, saya gak ada niat jahat koq.”jelas Joan panjang lebar sambil memperhatikan cowok itu. Umurnya kira-kira 24 atau 25 tahunan, untuk ukuran cowok dia di atas standar alias cakep dan imut. Meskipun tidak melihat dari dekat dengan jelas, tapi Joan bisa menilai bahwa mungkin saja cowok itu belasteran. Dan yang paling menarik perhatian Joan adalah bentuk rahang cowok itu yang tegas membuatnya terlihat macho.
“Kamu demam?”
Joan sadar dari lamunannya “Hah?”
“Soalnya muka kamu merah banget tuh.”katanya lagi. Ups, Joan salah tingkah. Dadanya berdebar-debar, entah kenapa dia jadi begitu gugup. Ada sesuatu yang sedang terjadi, hatinya terasa seperti digelitik.
“oh, ini ini karena pengaruh obat. By the way, kayaknya saya mesti balik, makasih atas tumpangan sembunyinya.”dengan sekuat tenaga secepat mungkin Joan berusaha keluar dari kamar itu.
To be continued.......
Tapi gak tahu kapan nyambungnya neh cerita~~~
Cuma pengen ngepost aja~~hahahaha~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar